Autobiografi - Amanda Yulianti
Malam itu, duduk termenung dalam sebuah mobil hitam yang
melaju kencang, meninggalkan kota kecil
bernama Pringsewu. Kendaraan itu melintas melewati tugu bambu melengkung
yang sudah menjadi ikon cirikhasnya. Tatapan kosong mengarah ke langit malam
tanpa bintang, seolah memasrahkan seluruh langkahku pada Tuhan yang menuntun
perjalanan menuju Yogyakarta, kota yang kelak menjadi saksi proses pendewasaan
diri.
Perjalanan malam itu terasa sunyi. Pandanganku beralih ke
kursi samping, terlihat kakak prempuanku terlelap dalam tidur yang tenang.
Sementara di kursi depan, omku tetap terjaga dengan penuh kewaspadaan, fokusnya
menggenggam kemudi. Terlintas kembali potongan kehidupan masa kecilku yang
terasa begitu sederhana. Lahir dari keluarga yang bergelimang harta namun
hangat dalam kebersamaan, hari-hari yang kala itu diisi dengan tawa kecil di
rumah. Bapak yang berkerja sebagai kontraktor proyek jalan biasaya pulang
setiap hari Sabtu dan mengajak kami menikmati waktu bersama dengan makan dan
berbelanja di luar. Sementara ibu menjaga warung kecil keluarga yang menjadi
penopang kehidupan sederhana kami.
Kala itu, hidup kami terasa cukup sampai sebuah peristiwa
besar perlahan mengubah arah perjalanan keluarga. Sejak saat itulah, kehidupan
yang semula tenang mulai mengenal artinya kehilangan, perjuangan, dan kenyataan
bahwa proses pendewasaan kadang datang lebih cepat dari yang seharusnya.
Hari pertamaku di Man 5 Sleman berjalan sebagaimana hari
hari awal sekolah pada umumnya Suasana kelas yang masih canggung, wajah-wajah
baru yang sama-sama mencoba beradaptasi. Seperti biasanya guru meminta seluruh
murid memperkenalkan diri satu per satu. Ketika giliranku tiba, dengan sedikit
gugup aku mulai bicara “Perkenalkan nama aku Amanda Yulianti, biasa
dipanggil Amanda.”
Aku anak kedua dari dua bersaudara dan aku memiliki seorang
kakak prempuan. Aku lahir di Lampung Tengah pada 1 Juni 2007, bertepatan dengan
Hari Lahir Pancasila. Dari kecil, hidupku sudah diwarnai dengan berbagai
perpindahan tempat dan perubahan keadaan yang perlahan membentuk diriku hingga
berada di titik ini. Sebelum benar-benar berdiri dikota yang dikenal sebagi
kota pendidikan, Yogyakarta, ada perjalanan panjang yang terus melekat dalam
ingatanku.
Setelah berbagai gejolak keluarga, aku dan kakak
perempuanku sempat tinggal di rumah kakak dari bapakku yang biasa kupanggil
uwak. Rumah uwakku cukup besar dan ramai oleh aktivitas keluarga, tetapi di
tempat itulah sebagian masa kecilku kembali dibentuk oleh keadaan.
Pada masa itu, bapakku bekerja di bidang lapangan yang
berkaitan dengan pencarian titik minyak bumi. Ia jarang berada di rumah.
Biasanya bapak hanya pulang dua minggu sekali, bahkan terkadang sebulan sekali.
Di waktu yang sama, ibuku juga sudah lebih dulu bekerja di luar negeri. Rumah
terasa ramai, tetapi sunyi oleh kehadiran orang tua.
Aku masih mengingat suatu sore sepulang sekolah. Tanpa
banyak bicara, aku langsung masuk kamar dan menangis diam-diam. Uwak yang
menyadari itu segera menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dengan suara
tertahan, aku bercerita tentang celetukan seorang teman yang mengatakan bahwa
kedua orang tuaku selalu bekerja. Kalimat sederhana itu terasa menusuk,
seolah-olah aku benar-benar sendirian. Uwak menenangkanku dengan lembut. Ia
berkata bahwa justru karena sayanglah bapak dan ibuku bekerja keras. Kata-kata
itu mungkin tidak langsung menghapus sedihku, tetapi cukup untuk membuatku
bertahan sedikit lebih kuat hari itu.
Memasuki kelas lima SD, bapakku sempat mendapat tawaran
pindah tugas ke Kalimantan. Namun ia memilih tidak melanjutkan pekerjaan
tersebut dan memutuskan pulang untuk merintis usaha sendiri. Dengan
memanfaatkan produksi pempek milik uwak, bapakku mulai berjualan hingga membuka
ruko kecil. Usaha itu perlahan berjalan lancar, bahkan sempat berada di masa
yang cukup berjaya. Seiring waktu, ketika bapak sudah lebih sering berada di
rumah, kami pun memutuskan keluar dari rumah uwak dan mengontrak rumah sendiri.
Untuk sesaat, aku kembali merasakan hangatnya memiliki rumah kami sendiri.
Namun di balik kelancaran usaha, hubungan bapak dan ibuku
justru semakin tidak harmonis. Hampir setiap percakapan melalui telepon
diwarnai pertengkaran. Sejak saat itu, aku mulai memahami bahwa tidak semua hal
yang terlihat baik di luar benar-benar baik di dalam.
Waktu terus berjalan hingga suatu malam yang masih
kuingat jelas. Keluargaku berkumpul di depan televisi yang menyala, tanpa
kehadiran ibu menyaksikan berita tentang kemunculan virus Covid-19. Saat itu
tidak ada yang benar-benar menyangka bahwa peristiwa tersebut akan membawa
dampak sebesar ini dalam kehidupan kami.
Ketika Covid-19 mulai menyebar di Indonesia, ujian akhir
semester kami dilaksanakan secara daring. Libur yang awalnya dikira hanya dua
minggu berubah menjadi hampir dua tahun. Dampaknya terasa nyata. Usaha bapakku
semakin sepi hingga pemasukan keluarga menurun drastis.
Keadaan itu memaksa kami kembali berpindah, kali ini ke
Tanggamus, tempat banyak saudara bapakku tinggal. Bapak diminta untuk mengurus
kebun kopi milik nenek. Kami pun menempati rumah nenek yang sudah lama kosong.
Rumah itu memiliki pekarangan yang luas, dan itu dimanfaatkan bapak menanam
beberapa jenis sayuran yang cukup membantu kebutuhan sehari-hari.
Aku menempati sebuah kamar dengan jendela yang langsung
menghadap ke Gunung Tanggamus. Pemandangannya indah, tetapi suasananya sering
terasa sepi. Terlebih lagi, bapak sering menginap di kebun yang berada di gunung
ketika musim panen atau saat membersihkan lahan, biasanya sekitar seminggu
setiap bulannya. Di rumah, aku hanya berdua dengan kakak perempuanku.
Hari-hariku banyak dihabiskan di dalam kamar. Dari
situlah aku menemukan pelarian melalui game online dan teman-teman virtual yang
menemaniku lewat panggilan grup yang ramai. Bersama mereka, aku bisa bercerita
tanpa merasa dihakimi.
Namun ujian belum berhenti. Pernah terjadi konflik kecil
dengan keluarga dari pihak bapakku. Aku sempat berselisih dengan anak dari
bibiku. Kenakalan anak-anak yang masih bisa kuterima, tetapi ada satu ucapan
yang sangat membekas ketika mereka mengatakan bahwa aku tidak memiliki ibu.
Kalimat itu kembali melukai hatiku yang selama ini berusaha kuat.
Sejak saat itu, aku semakin sering memilih mengurung diri
di kamar dan enggan ikut berkumpul keluarga di rumah nenek. Hubunganku dengan
bapak pun sempat merenggang karena beberapa kali bapak memarahiku. Dalam
kondisi seperti itu, aku jadi lebih sering mengadu kepada ibu dari kejauhan.
Waktu terus bergerak. Covid-19 perlahan mereda dan
sekolah kembali berjalan normal. Ujian akhir kelas 9 akhirnya dilaksanakan
secara offline. Untuk keperluan sekolah, aku sempat kembali ke Pringsewu dan
tinggal di rumah uwak.
Di masa itulah ibu memberi pilihan penting: melanjutkan
SMA bersama bapak atau ikut mbah di Yogyakarta. Ibu paham, hubunganku dengan
keluarga dari pihak bapak sedang tidak baik-baik saja.
Melalui banyak pertimbangan, selesai ujian sekolah aku
memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta. Kakakku ikut mengantarku dengan rencana
awal hanya menetap sekitar satu bulan sekaligus berlibur. Namun siapa sangka,
kakakku justru merasa betah dan akhirnya memutuskan untuk bekerja di
Yogyakarta.
Langkahku di MAN 5 Sleman menjadi saksi proses
pendewasaan. Aku belajar beradaptasi di lingkungan baru, memahami diriku
sendiri, dan perlahan berdamai dengan masa lalu yang tidak selalu mudah.
Kini, sebagai mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta,
ada perjuangan baru yang harus kutempuh. Aku sudah tidak lagi tinggal bersama
mbah. Aku dan kakak perempuanku memilih mengontrak rumah berdua, memulai hidup
yang lebih mandiri.
Perjalananku menuju bangku kuliah tidak berjalan mulus.
Aku tidak lolos SNBP, dan jujur itu
cukup membuat mentalku terpukul. Kerana melihat sebagian teman-temanku lolos di
PTN pilihannya. Namun aku mencoba menguatkan diri dengan berpikir bahwa masih
ada kesempatan di UTBK. Sayangnya, hasilnya kembali tidak sesuai harapan. Di
titik itu, aku mulai ragu pada diriku sendiri. Aku bingung harus melangkah ke
mana, sementara di sisi lain aku juga belum memiliki mental yang cukup kuat
untuk langsung bekerja.
Di tengah masa yang membingungkan itu, kakakku selalu
menjadi orang yang paling konsisten mendukungku. Dari situ aku semakin sadar
bahwa kehadiran kakakku benar-benar sangat berarti. Kami berdua melewati
berbagai rintangan bersama, saling menguatkan dengan cara kami masing-masing.
Di hari-hari yang terasa kosong, aku lebih banyak
menghabiskan waktu dengan bermain gams. Sesekali aku juga mencoba mengikuti
lomba menulis cerpen dari poster yang lewat di beranda Instagram. Meski belum
pernah menang, setidaknya dari situ aku belajar untuk tetap mencoba.
Hingga tibalah hari tes CBT kampus. Saat itu aku sudah
berada di titik pasrah. Jika tidak diterima, aku sudah menyiapkan rencana
cadangan mengambil jurusan Hukum di UAD atau Manajemen di STIE YKPN, karena
bapak tetap ingin aku melanjutkan kuliah. Ibu sempat kurang setuju jika aku
mengambil jurusan tersebut. Namun ketika akhirnya aku dinyatakan lolos di
Pendidikan IPS UNY, ibu perlahan luluh.
Meski begitu, sampai hari ini ibu masih bekerja di luar
negeri dan belum ada rencana untuk benar-benar pulang. Ada kalanya rasa kengen
itu datang diam-diam, terutama ketika melihat teman-teman bisa berkumpul
lengkap dengan orang tuanya. Namun aku mencoba memahami bahwa setiap pilihan
orang tua pasti memiliki alasan yang tidak sederhana.
Di sisi lain, aku sering merasakan campuran perasaan
bangga sekaligus iri kepada kakakku. Ia juga sedang menempuh pendidikan di
Universitas Terbuka jurusan Hukum sambil bekerja di perusahaan mobil Astra
Daihatsu. Bahkan, ia turut membantu membayar UKT-ku. Aku tahu di balik itu
semua, kakakku juga menyimpan cerita perjuangan yang tidak ringan. Kami
sama-sama sedang berjuang, hanya dengan medan yang berbeda.
Kadang bapak berkata, “Contoh mba Fany itu, kerja
sambil kuliah. Kuliah juga butuh skill.” Aku mengerti maksud bapak bukan
untuk membandingkan, melainkan untuk memotivasiku agar tidak mudah menyerah.
Untuk sepuluh tahun ke depan, aku memang belum punya gambaran yang sepenuhnya jelas. Namun aku memegang satu prinsip: memulai adalah sebuah keberanian, dan menyesuaikan diri adalah bentuk komitmen. Saat ini, fokus utamaku adalah menyelesaikan pendidikan di UNY dengan sebaik mungkin.
Ke depannya, aku punya keinginan untuk melanjutkan studi
ke jenjang S2, bahkan mungkin hingga S3. Membayangkan suatu hari namaku akan
disertai gelar “Amanda Yulianti, S.Pd., M.Pd. sebagai bukti proses perjalanan
panjang.
Komentar
Posting Komentar